Resensi Cerpen

Judul Cerpen            : Kisah Si Telepon Koin

Pengarang               : Dien Nisa Adriyani

Tanggal Terbit          : Maret 2013

Kategori                  : Fiksi

Sumber                   : Kisah Si Telepon Koin

Cara dan Lama Baca

                Pada cerpen “Kisah Si Telepon Koin” ini, dengan gaya penulisan yang mudah dimengerti, pembaca akan menyelesaikan membaca cerpen ini dalam waktu yang relatif singkat, sekitar lima menit.

Sinopsis

Cerpen sederhana berjudul Kisah Si Telepon Koin yang di tulis oleh Nisa di dalam Blog pribadinya ini berawal dari kondisi telepon koin tua yang terabaikan oleh masyarakat, bahkan dijadikan tempat para tangan usil beraksi karena sudah termakan arus perkembangan zaman, sehingga tak berarti sama sekali.

Lalu latar waktu berubah saat 40 tahun yang lalu, dimana ada seorang pengemis cilik yang selalu datang ke telepon koin itu dengan penuh antusias dan rasa ingin tahu lalu dihampiri oleh seorang pria tua berkemeja putih dengan lengan kemeja tergulung  dengan sepenuh hati memenuhi rasa keingintahuan-nya. Hampir setiap hari mereka datang ke sana saling berbagi cerita. Lalu di akhir pekan, mereka membersihkan-nya tanpa peduli dengan pandangan orang yang menganggap aneh perbuatan itu, namun adapula yang memberi mereka tatapan kehangatan.

Hingga suatu malam, pria tua itu menghampiri telepon koin itu dengan keadaan lemah menempelkan pesan pada telepon koin itu sampai nyawa terlepas dari jasad pria itu. Keesokan paginya, banyak orang bergerombol di telepon koin itu menyaksikan jasad pria tua yang terbujur kaku disana, hingga akhirnya pengemis kecil itu datang mengetahui siapa jasad itu dan tak bergeming sambil menangis sesekali.

Satu minggu berlalu, pengemis itu tak henti bercerita tentang impiannya di telepon koin itu sambil menggenggam ganggang telepon seolah olah berbicara dengan pria tua berkemeja tua. Waktu silih berganti, si pengemis cilik beranjak dewasa dan mimpinya terwujud sehingga ia tidak menjadi pengemis lagi dan masih menyempatkan waktu untuk merawat telepon koin itu.

Hinggga 30 tahun berlalu, pengemis yang telah telah beranjak semakin dewasa dan tak ada yang mengunjungi sambil merawat telepon koin itu sampai telepon koin itu tua dan terabaikan. Lalu telepon koin itu dihampiri oleh bayangan samar dan ternyata jiwa sang pria tua berkemeja tua yang merindukan kehadiran pengemis cilik itu.

Suatu siang nan terik dengan angin yang sejuk, terlihat seorang pria paruh baya menggandeng seorang gadis kecil berkucir dua datang menghampiri telepon koin itu sambil membawa ember dan kain lap. Mereka hendak membersihkan telepon koin tua itu. Dan ternyata pria paruh baya itu adalah sang pengemis cilik yang sedang mengajari gadis kecil itu membersihkan dan mengenali telepon koin itu sambil tertawa bahagia. Saat angin semilir membunyikan kertas pesan lama dari pria tua yang telah meninggal dan menarik perhatian si gadis kecil, pria paruh baya itu pun membaca pesan itu dan terharu. Dan kisah indah pun kembali bergulir di telepon koin tua yang sudah tak berguna itu.

Tanggapan

Cerpen ini sangat menarik dan banyak memberikan pelajaran hidup bagi siapapun yang membacanya.  Walau hanya sebuah benda yang tak berguna lagi, telepon koin telah menjadi tempat yang perlu dihargai karena banyak curahan hati, informasi, tawa, canda dan tangisan serta banyak kisah yang bergulir indah di sana.

Gaya penulisan sederhana yang dipakai penulis dalam menulis cerpen ini mudah dimengerti oleh pembaca pemula. Namun dibalik gaya penulisan ini, tersirat makna dan kesan yang mendalam dari deskripsi yang diberikan. Namun, tak ada satu pun dialog dalam kalimat langsung yang digunakan penulis. Penulis hanya menuliskan cerita dengan menjelaskan kondisi yang dilihat dari sudut pandang tokoh utama, sehingga pembaca harus membacanya dengan penuh konsentrasi dan teliti.

Alur yang bergulir di cerpen ini campuran, karena inti dari cerpen ini adalah mengenang masa saat pengemis kecil dan pria tua berkemeja putih saling berbagi kisah indah hingga sang pengemis cilik beranjak dewasa dan mampu meraih mimpinya sampai kemudian ia kembali ke telepon koin tua dengan seorang gadis kecil dan mengulangi kisah indah disana. Adapun alur selengkapnya sebagai berikut:

  1. Telepon koin tua yang terabaikan dan tak terawat karena dimakan kemajuan zaman
  2. Kembali ke masa saat pengemis kecil dan pria tua berkemeja putih berbagi kisah indah sambil merawat telepon koin
  3. Pria tua meninggal dunia
  4. Si pengemis cilik mulai bermimpi dan meraih mimpinya saat dewasa
  5. Kembali ke masa kini saat tak ada seorang pun yang merawat telepon koin tua, bahkan si pengemis kecil yang beranjak dewasa sudah lama tak mengunjunginya
  6. Si pengemis cilik yang menjelma menjadi pria paruh baya kembali mengulangi kisah bersama seorang gadis kecil berkuncir dua.

Hal unik yang ada di cerpen ini yaitu penempatan sudut pandang orang pertama pelaku utama, yaitu sebuah telepon koin tua. Jadi sepanjang cerita, si telepon tua menceritakan kisah yang bergulir di telepon tua itu sehingga lokasi cerita tak berubah dan tak ada dialog dengan kalimat langsung.

Cerpen ini layak dibaca oleh seluruh kalangan karena mudah dimengerti dan banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik di dalamnya.

.

Fajar Nurhakim,

Ilmu Budaya Dasar, 1KA10, Mahasiswa Universitas Gunadarma Depok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s